Suatu pagi, Luna dan Bunda bercengkrama di teras depan rumahnya.

Saat itu hujan deras, aroma tanah basah dan udara yang menyegarkan melengkapi Minggu pagi mereka.

Luna terlihat melamun, Ibunda menyapa, “Ada apa, Nak? Cerita dong, semenjak kamu kerja di Jakarta, kita sudah jarang cerita,” ujar Bunda.

“Betul juga ya Bun, gak ada apa-apa kok… mungkin aku sekedar lelah saja,” kata Luna. “Lagipula, aku pulang ke Bandung kan untuk bersenang-senang,” lanjutnya.

“Tapi raut mukamu itu gak bisa bohong lho, biasanya mau secapek apa juga kamu masih bisa konyol kan,” tawa keduanya pecah ditengah turunnya hujan.

https://www.instagram.com/annnisapane/

Beberapa saat kemudian teras sunyi kembali menyisakan rintikkan hujan.

Air mata perlahan turun, Luna tak dapat menahan tangisannya.

Ayah dan Adik Luna mungkin tak dapat membaca isi hati Luna.

Tapi Bundanya.. ia selalu tau isi hati anak sulungnya ini.

Tanpa menuturkan kata, sang Bunda memeluk Luna sambil mengusap air matanya.

Pelukan Bunda selalu menjadi kehangatan bagi Luna. Tak ada yang bisa menenangkan Luna selain Bundanya.

Selalu terbayang dibenak Luna.. “Apa jadinya aku tanpa Bunda? Tanpa Adik dan Ayah?”, pikirnya dalam hati.

Itulah yang dirasakannya ketika ia pergi merantau di Jakarta. Ketika ia lelah, ia selalu rindu aroma masakan Bunda, candaan Adik dan cerita politik bersama Ayah.

Meski ia seorang yang periang dan supel, saat sendiri, nyatanya ia selalu merindukan kehangatan rumahnya di Bandung.

Dalam pelukan Bunda, tangisan Luna semakin deras, teredam oleh derasnya hujan.

Canda tawa Adik dan Ayah dari dalam terdengar hingga teras tempat kami duduk. Luna pun terlepas dari pelukan Bunda dan keduanya tersenyum mendengar kejahilan Ayah dan Adik.

Luna menyadari bahwa tak ada gunanya bermuram durja.

Kesedihannya ini hanyalah sementara dan sesuatu yang sesuatu yang dibentuk pikirannya sendiri.

Luna kecewa pada dirinya sendiri karena ia sempat tidak bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.

Bunda mengusap air mata Luna, sambil tersenyum. “Ayo masuk, sudah waktunya makan malam.” ucapnya.

Tanpa ragu, Luna dan Ibunda bergegas masuk untuk menyiapkan makanan.

Hari Minggu selalu menyenangkan bagi Luna.

Isak tangis belum tentu merupakan hal yang buruk, bisa jadi suatu hal yang dapat menyadarkannya bahwa ia harus selalu bersyukur.

Betapa hangatnya kasih Bunda, keusilan Adik dan Ayah.

Agar ia selalu ingat tujuannya merantau, selalu ingat bahwa apapun yang dilakukannya, ia lakukan untuk membanggakan orang terkasihnya.

So, sudahkah kamu bersyukur hari ini? ♡

She believes in kindness and positivity, which is why she has a certain color to her writing. The colors that turns sadness and sorrow into hope and smile. ♡