Ragaku mungkin tak bergerak, tuturku mungkin terdiam.

Nyatanya tak seorangpun dapat mengupas lapisan terdalam pikiranku.

Tak ada yang tahu bahwa pikiranku tidak berhenti bekerja ketika tuturku bungkam.

Bagai suatu kekacauan yang penuh dengan percikan warna yang terjebak dalam labirin kaca.

Ya, labirin kaca.

Penuh dengan inspirasi yang tidak berstruktur, kata yang penuh rasa namun tak bermakna.

Bagai pipa yang tersumbat, tak jarang ku tercekik dibuatnya.

Aku.

Tak pandai mengutarakan suaraku.

Ingin rasanya ku muntahkan segala bisikan yang mengganggu pikiranku.

Tak jarang kecemasan menghantuiku

Bahwa apa yang ku katakan akan menjadi tanggung jawabku hingga akhir hayat.

Bahwa apa yang ku katakan, tidak dapat ku tarik kembali.

Seperti pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu”

Membungkam tuturku menjadi pilihan dalam waktu yang cukup lama.

Lambat laun ku menyadari, apa tak ada jalan bagiku?

Perlahan ku tuangkan segala rasa dalam warna yang terpendam dalam imajinasiku.

https://www.instagram.com/panstels/

Berbeda dengan ucapan, goresan kuas menjadi suatu kebebasan bagiku.

Takut, gelisah dan cemas bukanlah teman saat aku mengekspresikan diri.

Melalui warna aku berbicara.

Setiap kata dan rasa yang tak bermakna, ku tuangkan dalam setiap goresan.

Khawatirku,

Perlahan menghilang.

Labirin pikiranku mulai memudar, menyisakan warna indah dengan bebas terpercik di udara.

Sebagian kata dan rasa tetap tak bermakna.

Tumbuhku percaya bahwa niat baik akan berujung kebaikan.

Kuharap dimanapun kamu berada,

Kamu akan menemukan jalan di setiap sulitmu.

Dan kumohon satu permintaanku, tetaplah berkarya.

She believes in kindness and positivity, which is why she has a certain color to her writing. The colors that turns sadness and sorrow into hope and smile. ♡

She believes in kindness and positivity, which is why she has a certain color to her writing. The colors that turns sadness and sorrow into hope and smile. ♡